Absolutitas dalam Hukum Islam: Integrasi Nilai Transendental dan Sistem Hukum Positif
Keywords:
absolutitas, hukum Islam, ushul fikih, qaṭ'iy, ẓanniy, maqashid syariah, hukum positif, Peradilan AgamaAbstract
The concept of the absolute in Islamic law carries layered meanings, encompassing not only the truth of revelation as a normative source but also legal epistemology, the limits of ijtihad, and the implementation of Islamic law within positive legal systems. In uṣūl al-fiqh scholarship, the absolute is frequently discussed through the qaṭ'iy–ẓanniy distinction, which governs the degree of textual certainty and the scope of legal interpretation. This study aims to analyze the concept of the absolute in Islamic law and its relevance to the dynamics of legal reform and integration with Indonesian positive law. A normative legal method is employed, incorporating conceptual, historical, and statutory approaches through a library-based review of usul fiqh literature, maqāṣid al-syarī'ah, Islamic legal philosophy, and national regulations. The findings indicate that absoluteness in Islamic law cannot be understood singularly but operates across multiple levels. Theologically, absoluteness inheres in revelation as the source of divine truth, while human juristic reasoning remains within the ijtihadi domain, allowing for divergence and development. Epistemologically, the qaṭ'iy–ẓanniy framework serves as a critical instrument for distinguishing fixed legal domains from those open to change. Within Indonesia's positive legal context, the absolute manifests as the absolute competence of Religious Courts, which delimits jurisdictional authority over specific matters according to Islamic law principles.This study concludes that absoluteness in Islamic law is a multidimensional concept linking transcendental values, ijtihad methodology, and legal institutions. Accordingly, understanding the absolute must be grounded in a balance between the certainty of foundational sharia values and legal flexibility in responding to social change.
Konsep absolut dalam hukum Islam memiliki makna yang berlapis, tidak hanya berkaitan dengan kebenaran wahyu sebagai sumber normatif, tetapi juga menyangkut epistemologi hukum, batas ijtihad, serta implementasi hukum Islam dalam sistem hukum negara. Dalam kajian uṣūl al-fiqh, konsep absolut sering dikaitkan dengan pembagian qaṭ'iy dan ẓanniy, yang menentukan tingkat kepastian teks dan ruang interpretasi hukum. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep absolut dalam perspektif hukum Islam serta relevansinya terhadap dinamika pembaruan hukum dan integrasi dengan hukum positif Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan konseptual, historis, dan perundang-undangan melalui studi kepustakaan terhadap literatur ushul fikih, maqāṣid al-syarī'ah, filsafat hukum Islam, serta regulasi nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa absolutitas dalam hukum Islam tidak dapat dipahami secara tunggal, melainkan memiliki beberapa tingkatan. Pada aspek teologis, absolutitas melekat pada wahyu sebagai sumber kebenaran ilahi, sedangkan produk pemikiran manusia tetap berada dalam wilayah ijtihadi yang memungkinkan adanya perbedaan dan perkembangan. Pada aspek epistemologis, konsep qaṭ'iy–ẓanniy menjadi instrumen penting untuk membedakan wilayah hukum yang bersifat tetap dan wilayah yang terbuka terhadap perubahan. Sementara dalam konteks hukum positif Indonesia, konsep absolut hadir dalam bentuk kompetensi absolut Peradilan Agama yang menentukan batas kewenangan penyelesaian perkara tertentu berdasarkan prinsip hukum Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa absolutitas dalam hukum Islam merupakan konsep multidimensional yang menghubungkan nilai transendental, metodologi ijtihad, dan institusi hukum. Oleh karena itu, pemahaman terhadap konsep absolut harus dibangun melalui keseimbangan antara kepastian nilai-nilai dasar syariat dan fleksibilitas hukum dalam merespons perubahan sosial.
References
Azmy, A. S. (2017). The compatibility of Islam to democracy: An analysis of Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) view on Islam and democracy. Dialog, 40(1), 85–94. https://doi.org/10.47655/dialog.v40i1.176
Cahyani, A. I. (2019). Peradilan Agama sebagai penegak hukum Islam di Indonesia. Jurnal Al-Qadau: Peradilan dan Hukum Keluarga Islam, 6(1), 119–128. https://doi.org/10.24252/al-qadau.v6i1.9483
Faisal, M. (2017). Eksistensi Pengadilan Agama dalam penyelesaian sengketa bisnis syariah perspektif hukum positif di Indonesia. Jurnal Ius: Kajian Hukum dan Keadilan, 5(3), 398–410. https://doi.org/10.29303/ius.v5i3.508
Fatakh, A., & Harsya, R. M. K. (2023). Dinamika politik hukum perbankan syariah pasca Undang-Undang No. 21 Tahun 2008. Inklusif: Jurnal Pengkajian Penelitian Ekonomi dan Hukum Islam, 8(2), 199–214. https://doi.org/10.24235/inklusif.v8i2.16406
Fauziah, S., Abubakar, L., & Handayani, T. (2022). Penyalahgunaan dana deposito milik nasabah ditinjau dari ketentuan hukum perbankan syariah. Jurnal Justisia Ekonomika: Magister Hukum Ekonomi Syariah, 6(1). https://doi.org/10.30651/justeko.v6i1.11648
Gunawan, E. (2017a). Pengaruh teori berlakunya hukum Islam terhadap pelaksanaan Peradilan Agama di Indonesia. Jurnal Ilmiah Al-Syir’ah, 15(2). https://doi.org/10.30984/as.v15i2.475
Gunawan, E. (2017b). Peranan Pengadilan Agama dalam pembaruan hukum Islam di Indonesia. Syariah: Jurnal Hukum dan Pemikiran, 16(1), 77–92. https://doi.org/10.18592/sy.v16i1.1432
Hamzah, H. (2020). Peranan Peradilan Agama dalam pertumbuhan dan dinamika hukum kewarisan di Indonesia. Al-Syakhshiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam dan Kemanusiaan, 2(2), 122–139. https://doi.org/10.35673/as-hki.v2i2.921
Jasmani, A. (2017). Pemberdayaan yurisprudensi sebagai hukum Islam: Analisis fungsional dalam rangka optimalisasi kinerja hakim agama. Al-Bayyinah, 1(1), 31–42. https://doi.org/10.35673/al-bayyinah.v1i1.7
Jatnika, W. (2022). Pendidikan politik sebagai bagian dari hak politik warga negara. Ahkam, 1(1), 148–165. https://doi.org/10.58578/ahkam.v1i1.747
Kamaluddin, I., Rahman, R. A., & Suntoro, A. F. (2021). Konsep qaṭ‘iy dan ẓanniy dalam epistemologi hukum Islam: Telaah model ijtihad Masdar F. Mas'udi. Mizan: Journal of Islamic Law, 5(3), 413–426. https://doi.org/10.32507/mizan.v5i3.1084
Maryono, A. S. (2019). Dualisme kompetensi permohonan pengangkatan anak bagi yang beragama Islam. Adhaper: Jurnal Hukum Acara Perdata, 4(2), 59–74. https://doi.org/10.36913/jhaper.v4i2.78
Mukhlishin, M., & Sarip, S. (2020). Keadilan dan kepastian hukum: Menyoal konsep keadilan hukum Hans Kelsen perspektif al-‘adl dalam Al-Qur’an. Media Keadilan: Jurnal Ilmu Hukum, 11(1), 55–72. https://doi.org/10.31764/jmk.v11i1.1954
Mukhlishin, M., Wahyudi, A. T., & Ramadhan, J. (2023). Unveiling the power of burhāni epistemology in reshaping Islamic economic law for a fair financial landscape. Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum, 8(2), 139–154. https://doi.org/10.22515/alahkam.v8i2.8482
Muttaqin, L. (2016). Positifisasi hukum Islam dan formalisasi syari’ah ditinjau dari teori otoritarianisme Khaled Abou El-Fadl. Al-Ihkam: Jurnal Hukum & Pranata Sosial, 11(1), 67–92. https://doi.org/10.19105/al-ihkam.v11i1.859
Najib, A. (2019). Kepastian hukum eksekusi dan pembatalan putusan arbitrase syariah dalam perspektif politik hukum. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 26(3), 482–502. https://doi.org/10.20885/iustum.vol26.iss3.art7
Nasir, M., Rizki, A., & Anzaikhan, M. (2022). Pembaharuan hukum keluarga Islam kontemporer. Taqnin: Jurnal Syariah dan Hukum, 4(2), 1–16. https://doi.org/10.30821/taqnin.v4i02.12137
Ningrum, T. (2020). Dinamika interpretasi hakim dalam menetapkan penetapan pengangkatan anak. Khuluqiyya: Jurnal Kajian Hukum dan Studi Islam, 108–122. https://doi.org/10.56593/khuluqiyya.v2i1.42
Nugraha, X., Iqbal, F. R., Firmansyah, R., & Cahyawati, G. D. (2020). Lampau dan sekarang: Analisis kompetensi absolut dalam perselisihan hak pada Pengadilan Agama. Mizan: Journal of Islamic Law, 4(2), 141–156. https://doi.org/10.32507/mizan.v4i2.799
Rellang, A., Kamilah, K., & Nazaruddin, N. (2024). Penggunaan prinsip hak asasi manusia untuk menyelesaikan konflik agama di Indonesia: Pandangan hukum nasional dan Islam. Jurnal Al-Ahkam: Jurnal Hukum Pidana Islam, 6(1), 33–44. https://doi.org/10.47435/al-ahkam.v6i1.2445
Rizal, M. C. (2022). Pemaknaan kewenangan mengadili dalam praktik peradilan perdata tentang permohonan penetapan orang hilang perspektif hukum positif dan hukum keluarga Islam. Mahakim: Journal of Islamic Family Law, 4(1), 65–83. https://doi.org/10.30762/mahakim.v4i1.116
Rohman, A. N. (2020). Upaya memantapkan peraturan isbat nikah dalam hukum perkawinan di Indonesia. Jurnal Hukum Sasana, 6(1), 41–50. https://doi.org/10.31599/sasana.v6i1.173
Salamah, U., & Rianto, R. (2018). Perda syariah dalam otonomi daerah. Mizan: Journal of Islamic Law, 2(2), 147–162. https://doi.org/10.32507/mizan.v2i2.147
Samsudin, T. (2018). Dinamika hukum Islam dan perubahan sosial. Istinbath: Jurnal Hukum, 15(1), 1–18. https://doi.org/10.32332/istinbath.v15i1.1072
Sukmana, R. A., Kurniati, K., & Sultan, L. (2023). Paradigma keadilan dalam penegakan hukum negara berdasarkan teori kebenaran perspektif filsafat hukum Islam. Jurnal Ilmiah Falsafah: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora, 8(2), 17–32. https://doi.org/10.37567/jif.v8i2.1589
Susylawati, E. (2019). Sengketa kewenangan pengadilan dalam perkara waris akibat adanya pilihan hukum. Al-Ihkam: Jurnal Hukum & Pranata Sosial, 1(1), 81–96. https://doi.org/10.19105/al-ihkam.v1i1.2554
Thohari, I. (2015). Konflik kewenangan antara Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama dalam menangani perkara sengketa waris orang Islam. Universum, 9(2), 171–184. https://doi.org/10.30762/universum.v9i2.84
Widjajati, E. (2019). Penyelesaian sengketa kepailitan menurut hukum perbankan syariah. Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah, 15(1), 75–90. https://doi.org/10.15408/ajis.v15i1.2855
Yuniarti, V. S. (2019). Analisis hukum ekonomi syariah terhadap penyelesaian pembiayaan bermasalah di perbankan syariah. Jurnal Perspektif, 2(2), 215–230. https://doi.org/10.15575/jp.v2i2.30