Rekonstruksi Konsep Abolisi Perspektif Hukum Islam: Telaah Ushul Fikih, Maqashid Syariah, dan Dinamika Pembaruan Hukum
Keywords:
abolisi, hukum Islam, ushul fikih, maqashid syariah, naskh, pembaruan hukum IslamAbstract
The term "abolition" in modern legal tradition is generally understood as the elimination, annulment, or suspension of a norm, sanction, or legal practice. However, in Islamic legal scholarship, this term is not a standard piece of terminology; rather, it has conceptual equivalents dispersed across various Islamic legal instruments, such as naskh, iqālah, khiyār, ibrā', and various mechanisms of legal change grounded in maqāṣid al-sharī'ah. This study aims to analyze the concept of abolition from the perspective of Islamic law, explain its epistemological construction in uṣūl al-fiqh, and examine its implementation in contemporary Islamic legal reform. The study employs a normative legal research method with conceptual, historical, and comparative approaches, conducted through library research of uṣūl al-fiqh and fiqh literature, maqāṣid al-sharī'ah, Islamic economic law, and various studies on Islamic legal reform. The findings indicate that the concept of abolition in Islamic law cannot be understood as a single doctrine of legal elimination, but rather constitutes a spectrum of legal mechanisms that differ according to their object and regulatory purpose. At the level of uṣūl al-fiqh, abolition bears close conceptual proximity to the theory of naskh, although scholars diverge regarding its scope, forms, and applicability. In contemporary thought, the concept has been reinterpreted through the maqāṣid al-sharī'ah approach, systems approach, and the theory of sharī'ah evolution, which positions legal change as a process of adaptation to public interest without eliminating the authority of revelation. In the domain of fiqh mu'āmalah, abolition is manifested through mechanisms of contract cancellation (iqālah), option rights (khiyār), debt remission (ibrā'), and various forms of legal relationship resolution that uphold the principles of justice, mutual consent, and legal certainty. Furthermore, in the context of public policy, the concept of abolition is also employed as an instrument of restriction or suspension of legal enforcement based on considerations of public interest (maṣlaḥah), as seen in pandemic management policies and family law reform in several Muslim-majority countries. This study concludes that abolition in the perspective of Islamic law is a multidimensional concept that must be understood based on the object of law, mechanism of change, and its methodological legitimacy through uṣūl al-fiqh and maqāṣid al-sharī'ah.
Istilah abolisi dalam tradisi hukum modern umumnya dipahami sebagai penghapusan, pembatalan, atau penghentian keberlakuan suatu norma, sanksi, maupun praktik hukum. Namun demikian, dalam khazanah hukum Islam istilah tersebut bukan merupakan terminologi baku, melainkan memiliki padanan konseptual yang tersebar dalam berbagai instrumen hukum Islam, seperti naskh, iqālah, khiyār, ibrā', serta berbagai mekanisme perubahan hukum yang berlandaskan maqāṣid al-syarī'ah. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep abolisi dalam perspektif hukum Islam, menjelaskan konstruksi epistemologisnya dalam ushul fikih, serta mengkaji implementasinya dalam reformasi hukum Islam kontemporer. Penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual (conceptual approach), pendekatan historis (historical approach), dan pendekatan komparatif (comparative approach) melalui studi kepustakaan terhadap literatur ushul fikih, fikih, maqāṣid al-syarī'ah, hukum ekonomi syariah, serta berbagai penelitian mengenai pembaruan hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep abolisi dalam hukum Islam tidak dapat dipahami sebagai satu doktrin tunggal mengenai penghapusan hukum, melainkan merupakan spektrum mekanisme hukum yang berbeda sesuai objek dan tujuan pengaturannya. Pada tataran ushul fikih, abolisi memiliki kedekatan konseptual dengan teori naskh, meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai ruang lingkup, bentuk, dan keberlakuannya. Dalam perkembangan pemikiran kontemporer, konsep tersebut mengalami reinterpretasi melalui pendekatan maqāṣid al-syarī'ah, systems approach, dan teori evolusi syariah yang menempatkan perubahan hukum sebagai proses penyesuaian terhadap kemaslahatan tanpa menghilangkan otoritas wahyu. Pada bidang fikih muamalah, abolisi diwujudkan melalui mekanisme pembatalan akad (iqālah), hak memilih (khiyār), pembebasan utang (ibrā'), serta berbagai bentuk penyelesaian hubungan hukum yang tetap menjunjung prinsip keadilan, kerelaan para pihak, dan kepastian hukum. Selain itu, dalam konteks kebijakan publik, konsep abolisi juga digunakan sebagai instrumen pembatasan atau penangguhan penerapan hukum berdasarkan pertimbangan kemaslahatan, seperti dalam kebijakan penanggulangan pandemi maupun reformasi hukum keluarga di beberapa negara Muslim. Penelitian ini menyimpulkan bahwa abolisi dalam perspektif hukum Islam merupakan konsep multidimensional yang harus dipahami berdasarkan objek hukum, mekanisme perubahan, dan legitimasi metodologisnya melalui ushul fikih dan maqāṣid al-syarī'ah.
References
Abdillah, A. J., Susanti, D. O., & Tektona, R. I. (2022). Characteristics of wakalah contract in financing with murabahah contract. Notariil: Jurnal Kenotariatan, 7(2), 65–75. https://doi.org/10.22225/jn.7.2.2022.65-75
Asman, A. (2021). The red yarn of contemporary Islamic law reform: A critical study of Abdullahi Ahmed An-Na'im's thought. Syariah: Jurnal Hukum dan Pemikiran, 21(1), 17–31. https://doi.org/10.18592/sjhp.v1i1.4193
Hakim, S., Monady, H., & Safitri, N. (2022). Pricing mechanism for collateral auctions in problematic financing at Bank Syariah Indonesia, Palangka Raya. At-Taradhi: Jurnal Studi Ekonomi, 13(2), 98–107. https://doi.org/10.18592/at-taradhi.v13i2.7536
Hamdan, A. (2020). Analisis penghapusan hutang atas pembiayaan syariah di Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) BMT Al-Falah Berkah Sejahtera Cirebon. Inklusif: Jurnal Pengkajian Penelitian Ekonomi dan Hukum Islam, 5(1), 79–95. https://doi.org/10.24235/inklusif.v5i2.5269
Hamid, A. (2023). Praktik khiyar pada jual beli tiket transportasi dalam tinjauan hukum ekonomi syariah di Mandailing Natal. Mu'amalah: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah, 2(1), 105–124. https://doi.org/10.32332/muamalah.v2i1.7033
Haq, M. I. (2019). Qawa'id ushuliyyah tasyri'iyyah sebagai prinsip dasar dalam memahami teks Al-Qur'an dan hadis. Journal of Qur'an and Hadith Studies, 6(1), 97–116. https://doi.org/10.15408/quhas.v6i1.13407
Hariyanto, E., Harisah, H., Hamzah, M., Faidi, A., & Umam, H. (2022). Ash-shulh as an attempt of sharia microfinance institutions to solve sharia economic disputes in Madura society. Jurisdictie: Jurnal Hukum dan Syariah, 12(2), 258–274. https://doi.org/10.18860/j.v12i2.13531
Hasanudin, H., & Yaqin, A. (2019). The transformation of ijārah: From fiqh to syariah banking products. Al-Ihkam: Jurnal Hukum & Pranata Sosial, 14(1), 72–98. https://doi.org/10.19105/al-ihkam.v14i1.1893
Istiqlaliyah, N., & Riyadi, A. K. (2022). Menyoal universalitas Al-Qur'an: Kajian atas pemikiran Mahmoud Thaha dalam The Second Message. Jurnal Intelektualita: Keislaman, Sosial dan Sains, 11(2), 203–213. https://doi.org/10.19109/intelektualita.v11i2.14034
Juliansyahzen, M. I., & Ocktoberrinsyah. (2022). The contemporary maqāṣid sharia perspective on sexual violence provisions in the Indonesian Law Number 12 Year 2022. Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam, 16(2), 269–286. https://doi.org/10.24090/mnh.v16i2.7018
Kasim, A. (2022). Analisis iqalah pada e-commerce dalam perspektif hukum ekonomi syariah. Al-'Aqdu: Journal of Islamic Economics Law, 2(1), 25–39. https://doi.org/10.30984/ajiel.v2i1.1979
Kholily, A. L. (2019). Pandangan Abdullah Saeed pada konsep nasikh mansukh. Nun: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir di Nusantara, 4(1), 159–178. https://doi.org/10.32495/nun.v4i1.39
Latif, H. (2022). Mengkritisi teori naskh dengan pendekatan maqashid: Telaah pemikiran Jasser Auda. Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah, 19(1), 52–68. https://doi.org/10.22373/jim.v19i1.12393
Ma'arif, M. A. (2020). Book review: Dekonstruksi syariah menurut Abdullah Ahmad An-Na'im. https://doi.org/10.31219/osf.io/6rb4n
Muhammadi, F., Razif, N. F. M., & Rahim, R. A. A. (2021). Al-rahn in Malaysia and Indonesia: Legal history and upcoming trajectory. Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum, 55(1), 153–176. https://doi.org/10.14421/ajish.v55i1.1019
Muslimin, J. (2020). Model studi hukum keluarga Islam: Mencari pijakan, merespon tantangan zaman. Jurnal Indo-Islamika, 7(2), 171–200. https://doi.org/10.15408/idi.v7i2.14821
Najib, A. (2020). Kepastian hukum eksekusi dan pembatalan putusan arbitrase syariah pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 93/PUU-X/2012. Jurnal Konstitusi, 16(4), 861–884. https://doi.org/10.31078/jk1649
Nurhayati, N., & Nasution, M. S. A. (2020). Maqāṣīd al-Sharī'ah in the fatwa of the Indonesian Ulama Council regarding congregational worship during the COVID-19 pandemic. Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum, 54(2), 251–275. https://doi.org/10.14421/ajish.2020.54.2.251-275
Nurjihad, N. (2023). Legal conformity between rahn tasjily and fiduciary guarantee and obstacles to implementation in Indonesia. Prophetic Law Review, 5(2), 218–239. https://doi.org/10.20885/plr.vol5.iss2.art5
Putra, S. M. R. (2021). Keabsahan akta akad murabahah berdasarkan kepatuhan syariah (Studi kasus terhadap Putusan Nomor 1957/Pdt.G/2018/PA.Js). Jurnal Lex Renaissance, 6(3). https://doi.org/10.20885/jlr.vol6.iss3.art13
Rafi, M. (2020). Konsep nasikh wa mansukh menurut Syah Wali Allah Al-Dahlawi dan implementasinya. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr, 9(2), 112–129. https://doi.org/10.24090/jimrf.v9i2.4142
Safudin, E., & Khasanah, U. (2022). Principles of maslahah mursalah on women's equality and justice: An analysis towards Supreme Court Regulation of the Republic of Indonesia Number 3 of 2017 concerning guidelines for adjudicating women's cases against the law. Kodifikasia, 16(1), 1–18. https://doi.org/10.21154/kodifikasia.v16i1.3925
Syarkarna, N. F. R., Ronaldo, W. D., & Hidayat, F. (2021). Status perubahan akad wadi'ah yad al-amanah menjadi wadi'ah yad adh-dhamanah pada bank syariah. MJSE, 1(2), 146–154. https://doi.org/10.24269/mjse.v1i2.4710
Taufiq, A. (2018). Pemikiran Abdullah Ahmed An-Na'im tentang dekonstruksi syari'ah sebagai sebuah solusi. International Journal Ihya Ulum Al-Din, 20(2), 145–163. https://doi.org/10.21580/ihya.20.2.4044
Wahyu, W., & Tektona, R. I. (2020). Kepastian hukum pelaksanaan khiyar syarat dalam bai' salam online melalui Instagram. Journal of Sharia Economics, 2(2), 109–129. https://doi.org/10.35896/jse.v2i2.117
Wicaksono, S., Al-Asy'ari, M. K. H., El-Adibah, E. D. N., & Iffahasanah, I. (2023). Maqashid sharia progressive: Anatomical and transformational of halal institutions in UIN KHAS Jember. El-Mashlahah, 13(2), 107–132. https://doi.org/10.23971/el-mashlahah.v13i2.7370
Witro, D., Hakim, A. A., & Komaruddin, K. (2021). Characteristics and essence of fatwas on Islamic economic law in Indonesia. Ahkam: Jurnal Hukum Islam, 9(1), 155–174. https://doi.org/10.21274/ahkam.2021.9.1.155-174
Zein, F. (2018). Legislation fatwa National Sharia Board–Indonesian Council of Ulama (DSN-MUI) in the state economic policy. Jurnal Cita Hukum, 6(1), 71–94. https://doi.org/10.15408/jch.v6i1.8267
أرحومة، م. م. (2007). تقدير نظام الإثبات في تشريعات الحدود. مجلة الجامعة الأسمرية، 8، 465–481. https://doi.org/10.59743/jau.v8i.321